Penelitian ini dilakukan guna rangka mengikuti LKIR ke 41 2009 LIPI. Turut senang rasanya dapat berpartisipasi kembali dalam LKIR setelah melewati LKIR Regional yang diselenggarakan DISORDA DKI JAKARTA, Dimana SMA N 83 Mampu menyabet 3 Gelar Juara Dalam 3 bidang yang berbeda di Tingkat Wilayah Jakarta Utara. Selanjutnya SMA N 83 mampu membawa pulang 1 piala atas prestasi di kancah tingkat Propinsi. Kini saatnya masuk ke dalam tingkatan yang lebih tinggi (mutlak untuk pencapaian tingkat nasional terintegrasi), yaitu LKIR tk. Nasional ke 41 yang diselenggarakan oleh LIPI. Tentu saja berbekal pengalaman saat mengikuti Perkemahan Ilmiah Remaja ke VIII di Yogyakarta sebelumnya KIR SMAN 83 jauh lebih siap dalam mengikuti event tahunan ini. Dalam perjalanannya, KIR SMA N 83 memilih judul ANALISIS KOMPARATIF KOMPLEKS GEREJA TUGU DAN KERATON YOGYAKARTA SEBAGAI EKSISTENSI CAGAR BUDAYA NASIONAL (STUDI ANALISA PENELITIAN DUA OBJEK WILAYAH YOGYAKARTA DAN JAKARTA). Dimana penelitian ini, dilakukan langsung di dua tempat berbeda yaitu di Yogyakarta dan Jakarta. Wah-wah menyenangkan sekali mungkin melakukan penelitian langsung di dua tempat berbeda. Dalam pembuatan karya tulis ini, memang data untuk Yogyakarta sebagian di ambil saat PIRN VIII, namun data yang di dapat ditambahkan kembali karena memang SMA N 83 2 minggu lebih lama saat di Yogyakarta dan mengamati objek yang sama dalam rangkaian Studi Wisata di Yogyakarta. Belum cukup disana, dalam penelitian ini TIM SMA N 83 yang dipelopori oleh Unerih Rastia Ningsih (KETUA KIR PERIODE 2008-2009) dan Ade Triana (KETUA KIR PERIODE 2009-2010) mendapat banyak dukungan dari teman2 pelajar Yogyakarta. Terutama dari Nora Rollynda dan Ajeng (yang merupakan keponakan dari Keluarga besar keraton langsung). Spesial thx to SMA Int. Budi Mulya (Nora, Astrid, Ajeng). Dengan berbekal menginap di Hotel Musafira jalan Taman Siswa dekat dengan makam pahlawan Kusumanegara dua punggawa KIR SMAN 83 melakukan ambil data kembali ditemani oleh Nora Rollynda yang setelah itu ia dipanggil untuk Summer Camp di Beijing China. Wah senangnya melakukan penelitian didampingi para ahli.
Di Jakarta, mereka melakukan pengambilan data dengan langsung ditemani narasumber utama keturunan langsung generasi ke 11, yaitu Bapak Arthur Michngael yang merupakan Duta Indonesia untuk pelestarian Budaya dan Cagar Budaya dan selaku Humas di dalam Kelompok Keturunan Portugis Asli yang merupakan (menurut kami) "seorang yang sangat nasionalis dan patriotik terhadap bangsa kita Indonesia". Beliau merupakan duta Indonesia, dimana juga ia pernah diundang sebagai tamu kehormatan di bawah naungan duta besar Portugal, Timor-timur, Brasil, dan beberapa negara lainnya untuk menjelaskan beberapa sejarah asal-usul keroncong dan Gereja Tugu. Perlu digaris bawahi Gereja Tugu dan Keroncong Tugu merupakan dua objek yang berdiri sendiri. Gereja Tugu berdiri sebagai Cagar Budaya dan Keronconcong Tugu Sebagai Seni Kontemporer dan merupakan asal-usul semua keroncong di Indonesia.
Sekali lagi kearifan lokal dalam budaya rasanya perlu ditanamkan, mengingat Kota besar pun mempunyai warisan budaya dan sebagai remaja kita tidak boleh membiarkan hal tersebut terkikis oleh arus Global yang hampir "borderless" ini.
Berikut adalah Abstraksi Penelitian. ANALISIS KOMPARATIF KOMPLEKS GEREJA TUGU DAN KERATON YOGYAKARTA SEBAGAI EKSISTENSI CAGAR BUDAYA NASIONAL (STUDI ANALISA PENELITIAN DUA OBJEK WILAYAH YOGYAKARTA DAN JAKARTA) Dua objek berbeda lokasi dan dinamika sejarah, yaitu Gereja Tugu dan Keraton Yoyakarta menarik minat kami untuk mengkaji ke-korelasian-nya sehingga dapat memberikan penilaian antara kebesaran sebuah nama suatu objek dibandingkan dengan kebesaran nilai sejarah dan daya tarik wisata terhadap objek cagar budaya dan upaya eksistensinya untuk melesatarikan budaya nasional Indonesia.
Metode yang kami gunakan adalah metode deskriptif komparatif, dimana kami meneliti suatu objek dan membandingkan suatu kondisi, dalam penelitian ini objek yang diteliti adalah Gereja Tugu dan Keraton Yogyakarta. Penelitian kami langsung di objek peneltian, yaitu di Yogyakarta pada tanggal 22-28 Juni saat PIRN dan berikutnya di Gereja Tugu Jakarta Utara selama Agustus.
Dalam penelian kami membandingkan nilai sejarah, nilai sosial kemanusiaan, struktur konstruksi bangunan, upaya pelestarian, dan sistem lapisan masyarakat yang ada dalam dua objek tersebut sehingga terkait dalam suatu variabel yaitu usaha eksistensi cagar budaya nasional. Kesimpulan yang kami dapatkan bahwa semua faktor yang menunjang di atas mampu memberikan implikasi baik perbedaan mendasar hingga kesamaanya pada usaha eksistensinya cagar budaya nasional.
Sekali lagi Selamat dan Sukses untuk Penelitian Kalian
Berikut Foto-foto penelitiannya.
Paragraph.
Comments
Bu Lela
Wed, 21 Oct 2009 18:18:18
Karya ilmiah yg bagus...tp jgn kcewa bila blom menang, smga pnelitian kalian bs jd sumber ilmu bg lainnya. Lanjutkan penggalian ilmu mll penelitian. sukses untk kalian.
bayusatriyawan
Wed, 21 Oct 2009 18:52:57
bu, ada pamerna KIR tanggal 27. dan doakan saya untuk bertanding di tanggal 29 ya..... ^_^
Leave a Reply
Informasi
Di sini kalian bisa mendapat dan mengomentari berbagai informasi terbaru yang masuk